Sumenep, Gilas.id – Moral publik runtuh, idealisme aktivis ambruk ketika pemimpin desa yang harusnya jadi penjaga gawang bertanggung jawab mensejahterakan rakyatnya, justru terlibat dalam dugaan pusaran korupsi dana BUMDes 2025 lalu.
Tidak heran jika Menteri Keuangan RI Purbaya Yudi Sadewa menarik dana atau memangkas budget untuk alokasi Dana Desa (DD). Lantaran sebagian Dana Desa ditengarai diselewengkan atau bahkan dibuat untuk keuntungan oknum kepala desa.
Kasus terbaru, dana BUMDes Meddelan, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sedang hangat-hangatnya diperbincangkan publik. Sebab BUMDes tersebut membuat program pengadaan ternak kambing yang diduga menelan dana fantastis mencapai ratusan juta yang bersumber dari 20 persen APBDes.
Dalam investigasi awak media pun terungkap jika ada dugaan permainan kotor dalam belanja untuk pengadaan ternak kambing di Desa Meddelan tersebut. Uang ratusan juta diduga habis untuk pembelian 16 ekor kambing dan pembangunan kandang.
Bahkan secara gamblang hal itu pun diakui oleh Ketua BUMDes Meddelan Asmuni. Jika pengadaan kambing itu tanpa sepengetahuan dirinya. Dana BUMDes untuk pengadaan kambing itu malah tidak dipegang olehnya. Uang itu diduga dikendalikan Kades Meddelan.
Atas pengakuan dan kejujuran Ketua BUMDes, menurut pakar komunikasi politik Nanik Farida, sepak terjang Kepala Desa (Kades) Meddelan mulai dipertanyakan kapasitas dan kewenangannya dalam pengelolaan dana BUMDes tersebut.
“Jika memang terbukti terlibat dalam dugaan pusaran korupsi dana BUMDes, Kades Meddelan harus bertanggung jawab. Bukannya mensejahterakan rakyat kok malah uang untuk kesejahteraan rakyat mau dikorup? Saya benar-benar prihatin atas polemik dana BUMDes ini” akunya geram.
Padahal, kata Farida, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Meddelan yang bergerak di bisnis usaha ternak kambing ini dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat, mengurangi pengangguran dan memgentaskan kemiskinan.
“Ironisnya, dana BUMDes itu malah diduga kuat jadi bancakan oknum pemerintah desa. Dianggarakan capai ratusan juta, kambing ternak yang dibeli diduga hanya berjumlah belasan ekor yakni 16 ekor kambing,” terang aktivis perempuan jebolan Malang ini.
Saat dikonfirmasi Kades Meddelan Moh. Haris kepada awak media mengatakan semua diserahkan ke BUMDes untuk mengelola keuangan itu, mau dibelanjakan apa saja. Pemerintah Desa sudah tidak ikut campur urusan pengadaan ternak kambing itu. Lantas kades mengajak awak media untuk bertemu. (dan)











