Sumenep, Gilas.id– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh SPPG Matlabul Ulum Jambu, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, menuai kecaman keras dari masyarakat. Pasalnya, menu MBG yang dibagikan ke sekolah-sekolah diduga tidak layak. Bahkan, dapur itu ditemukan memberikan sajian roti berjamur serta buah apel yang hampir busuk.
Hal ini sontak membuat publik marah. Sebab, menu yang dinilai tidak layak itu masih tetap didistribusikan kepada siswa. Warga menilai insiden tersebut bukan sekedar kesalahan teknis, melainkan bukti lemahnya pengawasan dan kegagalan tanggung jawab.
“Kalau Kepala SPPG menjalankan tugasnya dengan benar, tidak mungkin makanan berjamur bisa sampai ke tangan anak-anak. Ini bukan ceroboh, tapi kelalaian serius,” ujar salah satu warga Lenteng yang berinisial MR, Selasa (23/12/2025).
Sorotan juga diarahkan kepada food handler yang seharusnya memastikan makanan layak konsumsi sebelum dibagikan. Masyarakat mempertanyakan sertifikasi yang dimiliki para petugas tersebut.
“Food handler katanya bersertifikat, tapi kok roti berjamur lolos? Sertifikatnya dipertanyakan, kerjanya juga patut dipertanyakan,” tegas warga lainnya.
Tak sedikit masyarakat yang menyebut Kepala SPPG gagal menjalankan fungsi pengawasan internal. Mereka menilai tidak adanya pengecekan akhir sebelum distribusi merupakan kesalahan fatal.
“Ini dapur untuk anak sekolah, bukan tempat buang makanan rusak. Kepala SPPG harus bertanggung jawab penuh, jangan cuci tangan,” ucap seorang wali murid dengan nada geram.
Selain itu, masyarakat juga mendesak agar pihak SPPG membuka secara transparan soal katering penyedia makanan. Roti berjamur yang dibagikan memunculkan dugaan bahwa katering tidak memenuhi standar keamanan pangan.
“Kami ingin tahu, kateringnya sudah bersertifikat atau belum? Jangan sampai demi mengejar anggaran, anak-anak dijadikan korban,” kata warga setempat.
Masyarakat menilai kejadian ini sebagai peringatan keras bahwa Program MBG tidak boleh dijalankan secara asal-asalan. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap Kepala SPPG, food handler, serta pihak catering, termasuk sanksi tegas jika terbukti lalai.
“Jangan tunggu ada anak sakit dulu baru sibuk klarifikasi. Kepala SPPG dan food handler harus bertanggung jawab atas kelalaian ini,” pungkas warga. (DN)











