Sumenep, Gilas.id- Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Permata, Sentol Daya, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, jadi perbincangan. Pasalnya, BUMDes itu diduga dikelola asal-asalan. Dan juga penyertaan modalnya diduga hanya sekedar dijadikan bancakan saja.
Dugaan tersebut muncul lantaran sistem pengelolaan yang seharusnya transparan, justru keuangan dan akuntabel tidak diterapkan sebagaimana mestinya oleh para pengurus BUMDes.
Salah satu indikasi terlihat pada unit usaha toko sembako yang dikelola BUMDes. Usaha tersebut diketahui mati suri sejak awal 2024, meski setiap tahun tetap menerima penyertaan modal dari desa dengan nominal yang tidak sedikit. Kondisi itu memunculkan berbagai pertanyaan dari warga setempat.
Salah seorang warga berinisial A mengatakan bahwa toko sembako tersebut semakin meredup sejak 2024 hingga akhirnya tidak lagi beroperasi.
“Kurang lebih 2 tahun, diduga sudah tidak beroperasi, namun yang mencurigakan dana untuk BUMDes masih terus berjalan,” kata dia.
Lebih lanjut, ia menyebut matinya unit usaha BUMDes Permata seolah dibiarkan begitu saja tanpa ada pihak yang bertanggung jawab.
“Unit BUMDes sudah tutup sejak lama, namun tidak ada pertanggungjawaban dari pengurus,” jelasnya.
Terpisah Penjabat (Pj) Kades Sentol Daya, Suaidi, mengaku bahwa kondisi unit usaha BUMDes Permata berupa toko sembako tersebut sudah tutup sejak dirinya ditunjuk untuk menduduki jabatan Pj di Sentol Daya.
“Untuk unit sembakonya, karena saya masih baru 10 bulan menjabat, saya tidak tahu. Toko sembakonya sudah tidak ada (tutup),” ujarnya, Rabu (19/11).
Kendati demikian, Suaidi mengaku bahwa pengelolaan BUMDes untuk saat ini terbilang berjalan cukup baik. Bahkan, ia menyebut pengurus saat ini telah menjalankan satu unit usaha baru berupa penggemukan sapi.
“BUMDes itu kan dapat 20 persen pengelolaan dari Dana Desa (DD). Usahanya jalan, usahanya ada penggemukan sapi di Dusun Nung Bunter, dan pembelian sapi sudah 12 ekor,” terangnya.
Di sisi lain, saat dikonfirmasi perihal adanya pertanggungjawaban dari pengurus terkait ditutupnya unit usaha sembako yang dikabarkan gulung tikar sejak 2024 lalu, Suaidi dengan tegas mengaku tidak menerima penjelasan apa pun dari para pengurus BUMDes. “Tidak ada,” pungkasnya singkat. (DN)











