Sumenep, Gilas.id – Mundurnya Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto sebagai Calon Sekretaris Daerah (Sekda) dalam merebut kursi sekda hingga kini masih misterius. Dugaan kuat ini muncul lantaran berbagai informasi yang berkembang, Arif yang digadang-gadang sebagai pewaris ‘tahta Sekda’ Sumenep.
Berbagai analis politik meleset dari prediksi semula bahwa Arif sebagai calon pewaris ‘tahta sekda’. Menarik disimak analisa politik dari pengamat politik dan kebijakan publik Ach Djoni Tunaedy. Dia membongkar berbagai skenario dan analisa adanya kejanggalan bahwa Arif disinyalir sengaja ‘dijegal’.
Lantas Bung Jon, panggilan kerennya, membeberkan analisa pertama, siapa yang tidak tahu jika Arif adalah pejabat atau birokrat muda yang ulung, bertalenta dan karirnya cemerlang di pemerintahan Era Fauzi – Imam (Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo – Wabup KH Imam Hasyim). Berbagai prestasi berhasil dia raih.
“Pantas saja Bupati Fauzi menempatkan Arif sebagai Kepala Bappeda Sumenep. Sebuah instansi pemerintah yang menjadi otak pembangunan Sumenep. Bahkan Arif juga dipercaya jadi Plt Kepala BKPSDM sebelum maju ‘melamar’ calon sekda,” terang mantan politisi ulung Partai Demokrat ini.
Analisa kedua, kata dia, Arif memiliki ‘trah kekuasaan’ yang jelas. Arif dikenal di kalangan elit birokrat sebagai family dekat Bupati Fauzi. Selain karena kariernya yang moncer dengan berbagai prestasi, Arif juga ditopang kedekatan keluarga. Beredar info jika dia masih keponakan Bupati.
Analisa ketiga, sambungnya, pelamar sepi peminat. Sejak tahu Arif ikut melamar sebagai calon sekda, nyaris semua mata kalangan elit langsung tertuju ke Arif. Bahkan di awal pembukaan lamaran sekda di Bursa Lelang Sekda sampai sepi peminat, Sewaktu Ketua Pansel dijabat Pj Sekda Sumenep. Indikasi awal jika pejabat lain sudah minder melawan Arif.
“Analisa keempat, Arif sebagai pelamar calon sekda bukan gagal atau tidak lolos seleksi. Arif dalam seleksi administrasi sudah lolos atau sudah Memenuhi Syarat (Status MS) bukan Tidak Memenuhi Syarat (Status TMS). Dengan kata lain, Arif bukan pejabat kaleng-kaleng atau gagal seleksi karena tidak cakap dan jenius.,” ujar Eks anggota DPRD Sumenep ini.
Analisa kelima, lanjut politisi senior inj, Arif mundur tanpa alasan yang jelas. Dia mundur saat hendak mengikuti tahapan seleksi lanjutan yakni seleksi Penilaian Kompetensi dan Potensi. Sebagai pejabat publik, Arif dikenal bukan tipikal pejabat pengecut. Dia selalu optimis dalam membangun masa depan Sumenep. Dia curahkan dedikasinya untuk kemajuan Sumenep.
“Nah jika Arif tiba-tiba mundur di tengah jalan, patut dicurigai jika dia diduga sengaja dijegal. Karena mundurnya dia sampai sekarang belum terungkap, masih misteri. Lantas kekuatan sebesar apa yang membuat Arif takluk, menyerah dan mundur? Padahal, konsekwensinya, dia tahu betul akan ditempel sebagai pejabat pengecut dan itu bukan tipikal Arif,” ujar Bung Jon.
Pernyataan mengejutkan disampaikan Kepala BKPSDM Sumenep Benny Irawan. Ketika dikonfirmasi insan pers, Benny mengatakan jika Arif mundur dalam konstelasi persaingan kursi sekda. Itu dibuktikan dengan adanya pernyataan Surat mengundurkan diri oleh Arif.
‘Tapi Pak Arif tidak menyertakan alasan di balik mundurnya dia. Kenapa dia mundur dan apa yang menyebabkan dia mundur. Secarik kertas surat itu hanya berisi narasi simpel. Saya mengundurkan diri. Sudah, itu saja,” beber Benny. (dan)











